Nuwu E Matua

Desa Tempok Selatan Di Pagi Hari

Desa Ini Merupakan Desa Pemekaran Dari Desa Tempok Kecamatan Tompaso

Perkebunan Sumesegha

Salah Satu Lahan Pertanian Di Wilayah Kepolisian Tempok Selatan

Jalan Desa Menuju Utara Ke Desa Tolok

Aktifitas Di Pagi Hari Peternak Desa Tempok Sebelum Mengolah Lahan Pertanian

Lokasi Perkebunan Desa Tolok.

Lahan Persawahan Yang Masuk Wilayah Kepolisian Desa Tolok Dan Desa Tempok.

Gunung Soputan.

Pemandangan Gunung Soputan Dilihat Dari Utara Desa Tempok.

Kamis, 19 Mei 2016

TOMPASSO IN TEPE


Thomas Hobbes, Richard Dawkins bicara ‘Kita Dulu Baru Ngana’
Refleksi Tompasso KINI
Ada yang berbeda terjadi pada hari Minggu kemarin, tepatnya dirumah saudara Lody Jenny Momongan didesa Kamanga. Ketika beberapa orang saja yang cuma kebetulan lewat sambil tegur sapa awalnya berubah menjadi perjumpaan serius yang tidak hanya saling meretweet memori masa lalu namun berkembang pada arah pembicaraan yang lebih kompleks sampai topic social masyarakat Tompasso keseluruhan. Seriusnya pembicaraan patut diapresiasi, dari awal tiga orang berkembang menjadi belasan orang. Waktu pembicaraan diawali sejak petang hari, berakhir pada jam 01.00 dini hari senin. Begitu beragamnya pendapat dan saran menunjukan cemerlangnya potensi sumber daya insane Tompasso dalam mengulas dan menyikapi kondisi yang terjadi baik dari tingkat nasional apalagi di desa. Kehadiran insane Tompasso dari desa Tember, Kamanga, Kamanga Dua, Tonsewer, Talikuran, Sendangan hingga Tempok memberi sisi lain pertemuan itu. Latar belakang keilmuan mewarnai solusi pemecahan masalah. Apalagi kehadiran aktivis mahasiswa dan Ormas serta Lsm memberi input dan output sempurna akan perjumpaan ini. Model pembelajaran disini memang agak unik dan langka ditemui ditempat lain, berkumpulnya tokoh social yang terjadi saat itu agak mengejutkan tatkala lewat bisikan teman saya yang mengatakan “orang orang Tompasso memang jago-jago”. Jago disini dalam konteks pintar atau Ngaas’an, sehingga decak kagum kawan saya dari Manado tersebut selalu dia tandakan dengan mengangkat jempol dan diarahkan secara sembunyi-sembunyi sambil manggut-mangut kearah saya, ckckckck ca gampang.
Selang tiga jam pembicaraan belum seorangpun beranjak ditempatnya masing-masing hingga suatu pernyataan mengejutkan disampaikan oleh sang mantan Hukum Tua Tember bapak Ben Sondakh yaitu ‘Kita Dulu Baru Ngana’. Empat kata ini memang sederhana dan kerap kita dengar tapi menjadi menarik dikala pernyataannya menjadi symbol diri pribadi bahkan justifikasi Tompasso secara keseluruhan. Pengakuan tendensius bahkan mengarah provokatif dilontarkan namun penilaian dan kejujuran hati patut dibanggakan, mungkinkah gambaran Tompasso sudah seperti ini sekarang…? Mungkin bagi penyandang status social di masyarakat hingga mereka yang berada di zona nyaman “atas nama masyarakat demi kepentingan saya” akan biasa-biasa saja bahkan tidak peduli. Layaknya harmoni lagu menjadikan perbincangan ini menjadi lebih hidup dan penuh semangat lewat alunan nada yang tinggi dan rendah.
‘Kita Dulu Baru Ngana’ identik dengan “EGOISME” Inilah yang menjadi topic bahasan saya…
Thomas Hobbes, seorang filsuf asal Inggris beranggap jika manusia adalah makhluk yang begitu kejam. Sehingga bagi Hobbes sendiri, setiap manusia pada dasarnya egois. Manusia mampu bertindak kejam pada orang lain untuk memenuhi kehendaknya. Sedangkan Richard Dawkins, ahli zoology Oxford memberi metafora “egois” kepada gen. Metafora tersebut mungkin memiliki irisan terhadap apa yang ada dalam pandangan Hobbes. Dawkins menyatakan itu di sekitar tahun 1976 dalam karyanya yang berjudul, The Selfish Gene. Apa yang telah diungkapkan oleh Dawkins kadang dipahami secara keliru, bahwa kita dipenuhi dengan sel egois. Dan kita sepenuhnya dikendalikan oleh gen itu sehingga menggoyahkan moralitas dan kehendak bebas kita. Pemahaman tersebut tentunya keliru. Dawkins pun menyadari telah gagal untuk memberikan penjelasan kepada khalayak umum waktu itu. Dawkins pun meluruskan metaforanya itu bahwa, manusia modern mampu mengendalikan gen egois karena memiliki akal budi.
Kemampuan manusia untuk mengendalikan dirinya adalah sesuatu hal penting dalam bidang ilmu psikologi. Ketidakmampuan kita dalam mengendalikan diri itu, mungkin menjadi salah satu alasan mengapa Hobbes berpadangan bahwa manusia itu kejam. Masih banyak di sekitar kita yang tidak menggunakan akal budi dengan baik. Hingga akhirnya, mereka dikendalikan oleh sesuatu di luar dari dirinya.
Peristiwa “Perjuangan Kecil” yang dialami pribadi saya bersama Sembilan orang yang lain pada tahun 2010 Silam di Tompaso Dua menjadi bukti dari kejamnya manusia. Lewat kami saluran aspirasi masyarakat petani menuntut ganti rugi matinya Sembilan sumber mata air di Tompasso yang mengaliri tanah persawahan rakyat yang dilakukan oleh PT Pertamina Geothermal Energi Area Lahendong. Kelompok kami bahkan diserang dua ratusan orang yang dikomando oleh mantan Camat Tompasso saat itu Bpk M Pangerapan hingga korban luka berjatuhan. Sayangnya pelaku dan korban adalah sesama saudara kita Tumompaso.
Hari ini, dengan mudahnya kita dapatkan manusia yang menghalalkan segala cara untuk memenangkan kepentingannya sendiri. Bahkan hanya atas nama Pimpinan Ormas di kecamatan, Pimpinan Partai di Kecamatan, hingga atas nama rakyat jabatan sebagai Hukum Tua digadaikan demi kepentingan diri, hingga penetrasi pengkhiatan demi memuaskan orgasme seks ontak duit pribadinya. Masa seperti ini begitu mencemaskan dan menakutkan. Nantinya Nyawa mungkin tak lagi diperhitungkan. Kepentingan di atas segalanya. Manusia hari ini mungkin saja akan membuktikan anggapan orang yang keliru pada istilah gen egois. Namun yang tak kalah lebih kejamnya adalah aparat hukum yang menjadi benteng atas nama kapitalis serta pemerintah yang selalu saja tak mampu bersikap tegas bahkan cenderung menjadi dirigen ketimpangan masyarakatnya.
Di bangsa kita ini, ada hal yang mampu mengendalikan keadilan di luar dari keadilan itu sendiri, uang misalnya. Istilah UUD yang seringkali diplesetkan menjadi “Ujung - Ujungnya Duit” membuktikan mental dan pola pikir sebagian besar bangsa ini. Apalagi yang mesti diharapkan jika hampir seluruh sektor telah diserang dengan kondisi seperti ini? Mirisnya lagi, materi menjadi sesuatu yang menggerakkan manusia.
Kemampuan dan kesempatan kita dalam melatih ketulusan pun hilang dengan sendirinya. Ini tentu saja akan menjadi penyakit mental yang layak mendapat perhatian. Bagaimana lingkungan telah membentuk sebagian orang berorientasi pada materi dan selalu diajarkan untuk menjadi lebih egois. Kepentingan di atas segala kepentingan akan selalu digunakan dan diaplikasikan. Jika kembali pada Dawkins, kita patut mencatat dan mempelajari temuannya. Bertahun - tahun, Dawkins mencoba meluruskan makna gen egois yang sebenarnya. Ia selalu beranggapan jika manusia selalu memiliki kekuatan untuk menjadi lebih baik dengan kendali yang ditemukan dari dalam diri sendiri. Hal menarik lainnya dari buku The Selfish Gene ada pada bagian bab terakhir. Pada bab terakhir, Dawkins membandingkan budaya dan genetika. Selain gen yang dapat diwariskan, budaya kita pun dapat diwariskan. Tentu saja membuktikan apa yang dikatakan Dawkins dapat kita mulai dengan melihat kondisi Tompasso hari ini. Jika dulu kita kerap menemukan budaya nepotisme, kemungkinan budaya itu menular dan dilestarikan. Terlebih jika sebagian dari kita merasa nyaman dan tak merasa bersalah atas keadilan. Hanya saja, kita tetap wajib memiliki harapan pada manusia - manusia yang berhasil lolos dari perangkap waktu dan lingkungan.
Meskipun tak jarang kondisi memaksa kita menjadi pesimis, namun pada suatu waktu kita akan membuktikan apa yang dikatakan Dawkins pada kalimat terakhir bukunya, “Kitalah satu - satunya di bumi yang bisa memberontak terhadap tirani replikator egois.”
‪#‎Saruntawaya‬..
Amurang 15/05/2016.

TOMPASSO PA ANGGAPEN I'LA


Pemikiran Nakalku Untuk “Sang Pemimpin”

Dari suatu senja dingin sehabis hujan ditemani segelas kopi yang hampir dingin dan membeku tak terasa ingatanku dikagetkan dengan teguran isteriku yang mengingatkan minuman yang telah ia suguhkan sudah hampir setengah jam yang lalu memang sudah tidak beruap pertanda kopi panas yang kental dan pahit sudah bukan lagi enak untuk dinikmati. Candaannyapun sampai mengingatkanku akan Hari Ulang Tahunku esok, jurus tebakannya kali ini sama sekali tak tepat. Walau sederhana hanya berbagi ucapan syukur dengan keluarga kecilku tapi yang pasti penghormatan dan rasa syukurku hanya pada Jesus Kristus sumber nafas kehidupan. Ternyata dua batang rokok kretek ban kuning yang jadi pengantar bacaanku dari sebuah buku tua tentang peradaban Minahasa menelisik hati kecilku akan ratusan bahkan ribuan tahun peradaban Minahasa dengan Tompasso adalah titik sentralnya hingga getaran raga dan kekaguman menyeliputi rona sukmaku, hingga sesuatu keniscayaan bangunan luhur peradaban yang dilahirkan dari bumi Tompasso serasa sulit berulang kembali bagi pewaris dan generasi kini yang masih tinggal dan mengaku Tou Tumompaso. Setelahnya pemberontakan raga dan sukma mulai bergejolak dalam kesadaran, ketidakmampuan dan ketidakmungkinan menjadi alas dari realitas masa kini.
Begitu gegap gempitnya kejayaan masa lalu, setidaknya pada akhir abad 18 menguatkan keinginan diri setidaknya diriku adalah bagian kehidupan masa lampau. Modernisasi peralatan dan gaya hidup bukanlah kunci dari alasan itu namun warisan ke-Maesa-an, Mapalus, Men-Siri-an, hingga Regenerasi Kepemimpinan adalah sedikit barang mewah yang tak terhingga nilainya tapi kini sudah menjadi barang langka yang pantas dimuseumkan di negeri Tompasso. Egosentris, Materialistis dan jiwa Kapitalis diganti dan kerap dipertontonkan dalam kehidupan kini. Ketidak pedulian hingga perampokan nilai – nilai luhur budaya negeri kita merupakan sesuatu yang biasa saja. Suatu “penistaan dan pemerkosaan” nilai-nilai ini sungguh harapan dari orang yang sesungguhnya tidak mengingini kejayaan Tompasso tak terulang kembali.
Para leluhur kita yang legendaries seperti Toar, Lumimuut, Karema, Soputan Tua, Siouw Kurur, Kopero hingga Miyoyo adalah tokoh yang mewarnai jazirah Minahasa lahir dan hidup dinegeri Tompasso hingga kisah heroic saat para Waraney Tompasso memukul mundur penjajahan sebagian suku Minahasa di daerah Pasan Ratahan oleh raja Loloda Mokoagow di abad 15. Komodor Suak, Rumambi dan Duo Laoh adalah tokoh nasional di era Soekarno. Begitu besar pengaruh kepemimpinan para anak-anak negeri Tumompaso di Jazirah Minahasa. Sehingga sangat pantas jika dikatakan bahwa Klan dan Gen Kepemimpinan adalah pantas dan merupakan ciri dari negeri kita. Arsitek berdirinya Minahasa semula dari Ni’maesa hingga kini kita kenal Minahasa adalah orang-orang Tumompaso, tidak heran kalau Tou Tumompaso Dikenal dengan sebutan TOUMPAKUWA (orang-orang yang sangat terkenal dan sering disebut-sebut). Toumpakuwa merupakan sebutan awal orang orang yang tinggal di negeri Tompasso setelah abad ke-7 saat jazirah Minahasa ini dibagi. Toumpakuwa dibedakan dengan negeri Kumawangkoan dan Sumonder yang disebut TOUNGKIMBUT.
Tak cukup hanya disitu, kebesaran Puser in Tana Tompasso dimasa lampau. Tompasso sebagai pusat kebudayaan dan pemerintahan tanah Minahasa bahkan membentang hingga keselatan sampai merebut sebagian wilayah kekuasaan Raja Bolaang Mongondow di masa pemerintahan raja Loloda Mokoagow. Tumompaso juga merupakan satu satunya negeri di Minahasa dan mungkin juga di Indonesia yang mengenal pendudukan wilayah asing atau dikenal dengan sebutan koloni baru yang kita ketahui saat ini dengan daerah Tompaso Baru sebagai daerah Kolonisasi. Kolonisasi dalam konteks saat itu adalah pendudukan dan penguasaan untuk mencari pemukiman baru, pencarian ilmu pengetahuan hingga perlindungan dan memajukan anak anak suku yang tersebar dimanapun mereka berada. Melihat kebesaran Tompasso dimasa lampau, sebagai Toumpakuwa sangat besar dan sangat berkuasa membuat saya berpikir ‘Menarik sebuah garis merah’, sebuah pemikiran yang merupakan suatu pertanyaan. Mengapa Tompasso sebagai awal dan cikal bakal peradaban masa lalu ditanah Minahasa hingga meraih begitu lama memegang kejayaan di bumi “mapalus” , begitu kuat dan strategis saat ini kondisinya sangat berbeda. Jauh tertinggal diabanding wilayah sekitarnya, daerah tetangga kita misalnya.
Era Tompasso untuk mengalami kejayaan dan meraih massa keemasan hendaknya bisa diraih pada massa kini, wilayah pertanian dan peternakan di Tompasso sudah di kelompokan baik peternakan sapi, kuda, babi hingga ayam dibedakan. Dimana keragaman perkebunan, persawahan, hutan dibedakan. Sungai-sungai diatur sebagai jalur transportasi setidaknya jalur DAS Tondano sebagai sarana vital jalur perekonomian dahulu. Pemanfaatan bukit gunung dan sungai sebagai alat pertahanan. Berdirinya pusat pendidikan, ilmu pengetahuan hingga pertahanan dan perang di daerah Pa’Dior. Jalan raya dan pembentukan Ro’ong sudah terbentuk rapih. Semuanya itu sudah ada dan sudah pernah dimaanfaatkan. Pada era tersebut negeri tetangga kita masih belum ada apa-apanya bahkan masih diselimuti hutan belantara. Mengapa saat ini justru perkembangan mereka lebih pesat dari Kita Tompasso. Ibarat lomba lari Tompasso sudah berlari jauh kedepan, Para tetangga kita belum bisa berjalan. Tompasso memiliki modal dasar background pemerintahan adat yang kuat, mengapa kita sudah jauh tertinggal dengan mereka? Mengapa banyak orang Sulut tidak tahu dimana lokasi Tompasso apa lagi orang Indonesia. Paling minim orang yang cinta budaya yang tahu Cuma ‘Watu Pinawetengan’. Mengapa banyak yang jika disebut Tompasso seolah menganggap sebuah daerah tertinggal dan penuh kesan daerah mistis jauh dari peradaban modern.
Pada dasarnya untuk mejadi sesuatu yang besar, wilayah yang besar, pola pikir (mind set) menjadi faktor yg sangat berperan disini (seperti saran DR Irene Umboh). Pola pikir yg bersumber dan di gerakkan oleh pemimpin di daerah tsb, lalu menyebar dan menjadi hembusan nafas bagi masyarakatnya. Mau tak mau pemimpin kepala daerah harus memiliki mindset yang bagus, yang smart, yang open mind, yang tulus menyumbangkan semua jiwa raga dan pemikiran serta karyanya bagi warga di daerah yang dipimpinnya. Menyebarkan hal baru, up to date dengan segala hal yang baru yang bernilai kebaikan,kemajuan, menyebarkan semangat, inovasi bagi kemajuan peradaban yang lebih baik.
Tompasso sebagai wilayah tua, penduduk yang mayoritas heterogen dan moderat, lebih struggle dalam kehidupan, lebih menerima perbedaan, hal hal baru ,mau menerima dan melihat pengalaman wilayah lain, untuk membangun dan memajukan wilayahnya. Dapat saya simpulkan BELUM ada SATU pun pemimpin di Kab. Minahasa bahkan Sulut setelah era kemerdekaan yang memiliki sifat yang saya bahas di alenia sebelumnya. Barangkali semua pemimpin Minahasa dan Sulut setelah era kemerdekaan 1945 sudah menganggap Tompasso sudah cukup baik, sudah cukup besar. Sudah cukup seperti ini saja. Rute jalan yang ada saat ini masih sama dengan rute jalan masa lampau, sampai irgigasi dan bendungan yang dibangun dimasa pemerintahan adat yaitu Walak dan Ro’ong hingga disaat bangsa Belanda masuk ketanah Minahasa tak pernah dirubah. Tampaknya para pemimpin di Minahasa setelah era 1945 hanya puas dengan melihat bayang bayang Tompasso masa lalu sebagai negeri besar sehingga enggan untuk membuat perubahan perubahan yang baru. Kalau tidak eksplisit dikatakan masih kurang kepedulian dan karya nyata terhadap perkembangan dan kemajuan Tompasso. Sudah begitu banyaknya pemimpin yang ditempa di Tompasso hingga kader pemimpin luar yang ditempa orang Tompasso, tetapi setelah mereka berhasil sulit sekali kembali atau paling tidak memberi sumbangan pemikiran yang berarti bagi kemajuan negeri Tompasso. Masih ada saja mereka yang datang kembali kenegeri Tompasso disaat mereka sudah tidak berkuasa atau berpengaruh lagi, tak berdaya dan hendak menghabiskan hidupnya dengan kondisi sakit-sakitan dan renta hendak berkoar-koar memajukan Tompasso. Bukankah yang kita butuh disaat dia berkuasa dan memiliki pengaruh di profesi yang dia tekuni baik pemerintahan sipil, militer atau seorang usahawan.
Karena itu pencarian pemimpin baik dia itu kepala derah atau legislator, besar harapan saya, pemimpin terpilih, siapapun dia, memiliki pemikiran yang lebih terbuka, lebih open mind terhadap hal baru, terhadap kemajuan ilmu dan teknologi, terhadap nilai nilai kebenaran dan hukum yang berlaku secara umum. Untuk selanjutnya disinergikan dengan semua komponen warga Tompasso sebagai sumber daya manusia dan segenap sumberdaya alam Tompasso, bagi kemajuan Kabupaten dan Provinsi yang memilki sejarah besar ini secara signifikan, nyata, terarah, terukur dan berjangka panjang bagi kemakmuran masyarakat Tompasso yang sejahtera. Selamat memimpin, yang amanah bagi rakyat Tompasso ya rekanku, setelah engkau kupilih, selanjutnya i’ll be watching you or serentape ..hehheehe…
Ro’ong Sendangan, 1 Mei 2016 -JFL-