Jumat, 16 Juni 2017
Minggu, 04 Juni 2017
Watu Tuur Kamanga Dan Rumeindeng
Oleh : Jurry F Langi.
Tengah Minahasa yang sering disebut “Pused In Tana Minaesa”
yang kini tak lain secara administrative pemerintahan berada di Kecamatan
Tompaso dan Tompaso Barat merupakan wilayah yang menyimpan sejarah sangat luar
biasa bagi Negeri Minahasa. Telah banyak yang diungkap namun masih terlalu
banyak yang tersembunyi bahkan sengaja disembunyikan setelah tergerus dengan
agama syiar selama ini di Tanah Minahasa atau kurang pekanya Instansi
Pemerintah terkait seperti Balai Arkeologi Manado, dinas Dikbud, atau
pegiat-pegiat budaya kesohor di bumi Toar-Lumimuut.
Tompaso Raya merupakan wilayah yang nyaris tidak tersentuh
historiografi, khususnya sejarah masa klasik atau kuno yang kentara paling hanya
sebatas Watu Pinawetengan dan Watu Tumotowa Saja. Historistas Tompaso selama
ini hanya berkutat pada fregmen materi-materi dan berupa mozaik yang perlu
ditata dan direkonstruksi kembali. Patut diakui bahwa historiografi Tompaso
merupakan bagian yang sangat signifikan dari penguatan kearifan dan kecerdasan
lokal. Selain itu juga merupakan pengenalan budaya serta sejarah Tompaso yang
selama ini tidak pernah tampil dalam pentas buku-buku tentang Minahasa, jikapun
ada hanya sebatas catatan kaki saja.
Penemuan Watu Tuur Kamanga.
Penemuan batu ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan
karena letaknya masih di pinggiran desa yang dijadikan lokasi perkebunan warga
sekitar. Dahulunya batu ini terletak diatas punggung bukit kecil dibagian barat
batu ini namun akibat abrasi dan sering digunakannya lahan sekitar untuk
pertanian hingga Watu Tuur Kamanga meluncur ke bagian timur.
Watu Tuur Kamanga memang sudah banyak kali diceritakan warga
seputaran Tompaso Raya namun letak tepatnya batu tersebut tinggal sedikit yang
tahu. Watu ini berumur atau seusia dengan Watu Pinawetengan dan Watu Tumotowa
seperti yang diungkap pemerhati budaya Bpk John Mamesah. Sepenggal kisah
dituturkan para tetua Tompaso Raya bahwa Watu Tuur Kamanga adalah “Watu Lempar” atau altar agung tempat
pemberian persembahan pada “Amang Kasuruan Wangko” karena dari sinilah segala
persembahan disampaikan dimana di tempat ini pulalah segala berkat di curahkan.
Karena sesuai dengan pengertian nama Watu Tuur Kamanga yaitu ‘Batu pokok atau
utama untuk Berkat dariNya’.
Penemuan Watu Rumeindeng.
Penemuan batu Ini sebenarnya yang paling mengejutkan, dibilang
mengejutkan karena letak batu ini ditemukan di tengah hutan lebat didaerah
Tompaso yang masih kadang dijamah manusia sebelumnya bahkan mungkin setelah kami
temukan secara tidak sengaja. Disamping letaknya sangat sulit dimana harus dua
kali melewati sungai serta tanjakan dengan kemiringan 65 derajat dan diharuskan
membuat jalan baru yang sebelumnya tidak ada. Ditengah hari dengan kondisi
lapar dan lelah suatu kejutan terbayar lunas setelah ditemukannya Watu Rumeindeng
ini.
Watu Rumeindeng dikenal sebagai altar suci saman dahulu
dimana watu ini di gunakan para Walian Mangorai memohon berkat pada Amang Kasuruan
Wangko, meminta petunjuk pada para Roh leluhur bahkan digunakan sebagai altar
pengesahan sumpah para Taranak Minahasa tempo dulu.
Watu ini juga digunakan oleh Tumitiwa atau ada yang
menyebutnya sebagai Kamang Kala bahkan watu ini juga memiliki nama lain sebagai
Watu Tumitiwa dimana watu ini dijadikan lokasi “Pengadilan” untuk pengambilan
keputusan terakhir bagi setiap orang yang melanggar adat tradisi dan budaya
Minahasa dahulu.
Tataar :
1.
Kepada Instansi pemerintah terkait yaitu Balai Arkeologi Manado:
Sesuai dengan Tugas dan Fungsi (SK baru No. 56/2012).
Balai Arkeologi mempunyai tugas penelitian benda arkeologi
di wilayah kerjanya. Dalam melaksanakan tugasnya, Balai Arkeologi
menyelenggarakan fungsi fungsi:
a. pencarian benda-benda arkeologi;
b. pelaksanaan analisis dan interpretasi benda-benda
arkeologi;
c. perawatan dan pengawetan benda arkeologi hasil
penelitian;
d. publikasi dan dokumentasi hasil penelitian benda-benda
arkeologi; dan
e. pelaksanaan urusan ketatausahaan Balai.
Penemuan-Penemuan diatas seharusnya menjadi salah satu
koleksi Cagar Budaya yang seharusnya dilestarikan. Saat ini Cagar Budaya di
Minahasa yang sudah dipugar juga belum menunjukkan jumlah yang signifikan
dibandingkan dengan Cagar Budaya yang mengalami kerusakan. Mengingat sebagian
besar Cagar Budaya di Indonesia terletak di open air (udara terbuka) yang
langsung bersentuhan dengan faktor air,
cuaca (suhu, kelembapan, angin), maka bahan dasar yang digunakan untuk Cagar
Budaya tersebut akan cepat mengalami proses kerusakan dan pelapukan. Masalah
lain adalah masih banyaknya Cagar Budaya (termasuk di dalamnya Cagar Budaya
bawah air) yang terancam hilang dan rusak, karena belum dilindungi secara
hukum.
Menyikapi hal ini dikhawatirkan Cagar Budaya yang sudah
mengalami kerusakan jika tidak segera diperbaiki/dipugar, maka lambat laun
kerusakannya akan semakin bertambah parah. Sementara Cagar Budaya/situs yang
dipelihara masih sangat terbatas terutama untuk Cagar Budaya dan situs-situs
yang terletak di wilayah Tompaso sebagai miniatur. Ini sudah barang tentu harus menjadi
perhatian dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Upaya pemeliharaan
rutin terhadap Cagar Budaya dimaksudkan untuk menjaga agar kondisi
keterawatannya tetap terjamin.
Tim yang ikut dalam pencarian dan semua orang yang mengetahui benda ini:
Untuk sementara dilarang untuk mempubliasikan secara luas
lokasi tepat adanya Cagar Budaya ini untuk menghindari terjadinya pengrusakan
dari orang-orang yang tak bertanggung jawab, sebelum di tangani pihak terkait
terutama instansi pemerintah.
Semoga Bermaanfaat,Pakamatuan Wo Pakalowiden cit aim baya.
Terima Kasih Disampaikan Kepada: John Mamesah, Steven
Tumundo dan Randy Terok atas kerja samanya.
Rabu, 05 April 2017
Si Lo'lok Wo Si Koloket
Si Lo’lok Wo Si Koloket
Indiorwo se tou raica mauseb wene ang lepo taan ang
katanaan. Kakelian ila raica keey maasona setana an rata, taan ti’ngir-ti’ngir toyo
ong kemel. Papaan reipek wana pa’yi kumapa pacol kele in tarepe, yawo in tana
pateri ila in tuura wo se rukut leme, pa parasen in teteba kumapa pa abutan
situ eng kawalian yawo setou indior maentoke ang tukdana ing kuntung.
Yawo acuaku serua matua ma’balum metaled ang pangumaan yawo
sila mamale(kawin). Sila in rua mentoloateken(punya anak tiri). Si tuama maka
toyaang wewene karangkana makalima in seseped(telapak tangan). Yawo raica ure
empamalean nila e menglooran. Sapakem ing kinawalian? Si wewene nitu lewo ulit
purikit wo ko tendul(penuduh). Sasi menanak(suami) asia ni muntepem in talun e
melit(jerat) intaan wo litai(perangkap) in wiyoo. Yawo lumintudem keey si
wewene nitu emokokoy(menindas) si toloatekenna(anak tirinya). Papaindona kayu
ase uted o paalina ang loilong pa’siwoan.
Papaindona rano an asuk(bulu t4 isi air) selak. Sa si
toyaang ma’sona-sona(perlahan-lahan) endepe maka kete’k yawo mento pe woo toyo,
ensabok tepina(tepi=cambuk) asi toyaang. So sauna enapi ngeren nimamuali,
kele’ituke siwinalian pekaris paema inapi
irosorna mange im baba I’toyaang. sa kuman yawo si toyaang wewene nitu
pakakantongna an tana wo papapitongna sekanen marongkor. Si toyaang wewene nitu
mandeen kumeritem(payah) enate taan riica kimena mapakaad(menyampaikan) imbaya
pawulengena asi amangna mendeen impemoymoyan. Sitoyaang tuama awean anatena
omopus situarina. An papaan inminde asi inangna maka katepke em babana mendeen
impemoymoyan.
Makasa tuun yawo si amangila nimareng rior ang loilong
pa’papaan incawana ingkinaindoan intaan kumapa inlitay im biyoo wo endo lewok
enantalun. Yawo pakasa sekanaramen paemaan I penanaana, kinalokanem. Mandeen
keleystu, yawo reica sia makarengan karangoanem. Karapi im penes yawo
pabuyanam, sawo sapa waya eng kawali-walian yawo keleytu engkarega. Taan ing
kapurikitan im penanaana caturuum asia. Yawo si penanaana makarengan kumesot
miyo ang doyongan o serua toyaang mekowaan kumelak se sapa waya
pengema-ngemaan’I inangila sa si amangila mange antalun.
Kuanem’I amangila, sapa en casale miyow mamuali acamo?.
Kuanem’I toyaang tuama: ‘sa yaku masale mamuali lo’lok’. Kuanem’I toyaang
wewene, sayaku masale mamuali koloket. Kuanem’I amang’ila :’entoenio tarepe
mamuali yawo sia makarengan mangkatem mange ang talun karapi iname wo
memoke-mokey wo sia tumowa si Opo Wailan e papadna embaya ni ma pela unatena.
Reica ure yawo ne numuwuum tu‘mey si opo wailan: ‘Pakasa waya eng kasalean I
rua toyaangana nimamuali, sa pinilaanum waya nana ing kinamamualian sapakem ko
nimatem’. Yawo marengem sia siamang nitu am paentoan ila, tayange an loilong
ila yawo sumungkulem meiy serua toyaang nitu, kuanem’I toyaang tuama nitu: ‘
amang temuud tarepe yaku mamuali lo’lok, sa siinang museb tande pa’dombitanku
oka emwuana wo se lumelepad patowaanku oka mentawang kumapu nitu. Yawo mamuali
tuun sia lo’lok.
Kuanem mei’y toyaang na wewene: ‘amang temuud tarepe yaku
mamualim koloket, sa si inang museb wene kumapa tande pa tuikenku oka sa
tumodem I’matemow. Sa embenena mua’em towaanku oka sirinceng mei’y tumepes in
danona im bene nitu’. Yawo sia mamuali koloket. Maka nuwu moko keleystu yawo si
amang nimate. Silolok muntepem ang talun wo si koloket tumelebem mange tumeir
I’numa. Kalinceman oka si inang mamulengen imbaya ang kakeritan I’nate lumaloos
im’penonowan ongkatowan.
Selasa, 04 April 2017
Si Koko Laka
Si Koko Laka
Indiorwo yawo kumeli-keli engkoko
asi kayobaan anio taan puteke pilaan sisiwei o silaka, wo reipe wana makila
ma’teleb ase kayu-kayu. Yawo se endo makasa ansangkum(sementara) I’esa koko
laka I’ma pontar-pontar ang talun an dangka I kuntung, yawo sia taalos mangayaka
papaan sia aimalinga ame in tou, yawo sia mento toyo wo maka
tekur(memperhatikan dengan seksama). Andekena(pikir) wona, sapam bona nanyo.
Papaan in’ame, si tou unitu
kakopusen oka sia tumepu indeken(mengambil keputusan) mange rumada.
En’doon sapakem bona nitu. Ane ambituke sia me’loloos mange asi tampa nitu.
Makarimat makaame oka enatena. Aneitu yawo sia maka ta’baya reica ure sia
cateka. Mange sia antawi am’paamean, radaana’tu mange sia minde ulit papaan
simengame’ngame nitu ya ulit reen tou paka opusene. Ore’…ore’…,
de’tumoko(jangan-jangan) ni’paan se tou lewo yaku. Yawo riitena mange sia si
pa’paan nitu wo paso ena enowak’na wo ing kekeleb’na. yawo tumindondor(berdiri)
mei’y siesa wewene leos wo kuanam: ‘kilaangkuko loor indeken(baik pikiran) wo
loor enate, taan kensan’nu sa sia lumepok ang kayu, kumapa kensan’nu sa sia ang
langit?. Kuanem I koko laka nitu; ‘ore…ore… maan in’nowakku reipe rona poponku
tumeleb ase kayu kayu.
Kuanam mei’y I wewene leos, rumiit
mei’y wo. Yawo sikoko laka nitu rumiit mange asi wewene leos makakuru. Yawo
rokos wo nele(leher) wo nowak wo kekeleb wo kiki I’koko laka nitu
pemisi-misian(dibelai-belai) oka I wewene leos. Tumarepe mei’y kekelianem
ni’mamuali ase koko laka unitu. Endekena nimarangka’em wo nimasela eng
kukuru’na(kapseti). O keey nima sendotem waya eng buuk’na. kaliuren(menarik)
ulit, ensasakana nimalambotem kele oka wengkow katebelna. Yawo moi’em(bertanya)
wewene leos asi koko laka yana; ‘sapape pangilaanu?’ yawo sowatenam; ‘ampungana
mei’y yaku, enaku aweane pangilaanku’. Moiem si wewene leos; ‘sapa
pangilaanu’?. Kuanem’I koko laka nitu; ‘sawo rona se koko laka rona mamuali
kakele’ku’. Sowatenem I wewene leos; ‘rona’. Yawo kumuru mio si koko laka
karapi sumiri asi wewene leos, wo sia mangila mareng. Kuanem I wewene leos; ‘ya
ico ronam mareng taan lingan’nei si patuulku anio’.
Esa. Waya sekoko laka, rona makele
ico engkukuruna.
Rua. Waya sekoko laka, ma kukuk sa
masora(mengais/mencari) kakanen.
Telu. Waya sekoko, ma kerek sa
mainde, wo ma’keok sa sia cumilaka.
Epat. Pakasa waya si koko siwey
ma’pekok sa mulinga, wo masoket(berketuk) sa tumowa si toyaangana.
Lima. Pakasa se koko toya,
masiuk(siulan anak ayam) sa tumowa si inang’ila.
Enem. Waya sikoko sela’em rona
mateka ang kayu-kayu.
Mangayaka mei’y catalam mio si
wewene leos, wo sikoko laka marengem.








