OLLY,
MAYA, BENNY:
Pertaruhan
martabat kita. Jangan Salah Pilih Cagub
Hajatan besar PILGUB sudah
di depan mata. Fenomena umum setiap menjelang PILGUB, ketika politisi tiba-tiba
menjadi begitu manis sikap dan perbuatannya, menyanjung dan memuja rakyat si
pemberi suara, sekarang sudah menjadi pemandangan sehari-hari.
Bagaimana kita, rakyat
pemilik suara dalam menyikapi fenomena ini?. Dulu di awal berdirinya negara
ini, ketika segenap lapisan masyarakat di negara ini masih larut dalam euforia
kemerdekaan, ketika kita baru mendapat kesempatan untuk menentukan nasib
sendiri, jawabannya Iya. Bahkan dalam dunia politik yang penuh tipu muslihat
sekalipun. Dalam beberapa kasus malah kebablasan. Contohnya seperti terjadi di
Tumompaso. Euforia kemerdekaan, semangat mendahulukan kepentingan bangsa dan
negara sampai menciptakan gerakan meninggalkan adat dan kesukuan (karena adat
dan kesukuan ini dianggap sebagai taktik Belanda untuk memecah belah persatuan
dan kesatuan bangsa ini). Gerakan ini ditandai perusakan tatanan budaya
minahasa yang berakar dari Tumompaso.
Itu cerita awal disaman
penjajahan dan kemerdekaan. Tapi ketika kemerdekaan bukan lagi cerita manis
dalam mimpi, menentukan nasib dan mengurus diri sendiri sudah dalam tataran
aksi bukan lagi perjuangan. Ketika kekuasaan berarti uang. Para politisi yang
ketika masih larut dalam suasana euforia kemerdekaan tampak seperti sekumpulan
manusia ideal perlahan tapi pasti kembali ke jati dirinya sebagai manusia normal.
Ketika generasi berganti,
politisi yang merupakan manusia ideal makin sulit ditemui. Politisi Indonesia
dalam hakikat, tak lagi beda dengan politisi manapun di muka bumi. Yang ketika
berkampanye mengatakan berjuang demi kepentingan rakyat dengan mulut
berbusa-busa sampai ada yang mengatakan ‘Menggadaikan diri’. Tapi kenyataannya
yang mereka perjuangkan di atas segalanya adalah kepentingan pribadi dan
kelompoknya sendiri.
Untuk itu sebagai pemilih,
agaknya ucapan Jendral Charles de Gaulle, presiden Perancis pertama perlu kita
renungkan “Para politisi itu tidak percaya pada omongan mereka sendiri, karena
itulah mereka begitu takjub ketika rakyat mempercayai apa yang mereka katakan”.
Jadi dalam menentukan
pilihan, berpijaklah pada realita, bukan pada utopia indahnya semangat
kebangsaan yang diajarkan di sekolah. Apalagi janji manis para politisi.
Lalu kalau kita berbicara
Tumompaso, bagaimanakah realitanya?
Untuk konteks Tumompaso,
fenomena Pemilu ini memiliki keunikannya sendiri. Tumompaso meskipun merupakan
bagian dari Tanah Minahasa, tapi Tumompaso sebagai sebuah identitas
Kepemimpinan tidak memiliki akses langsung ke level lebih tinggi.
Buktinya.....?
Bukankah seharusnya kita
berbangga bahwa Tanah Minahasa adalah sintesis dari Tompaso. Dimana Minahasa lahir
dari rahim Roong Kinatowan'ta Tumompaso?
Bukankah sejarah panjang
kepemimpinan ribuan tahun bangsa Minahasa adalah putra-putri Tumompaso?
Bukankah secara nasional
disaman Soekarno Tumompaso banyak melahirkan pemimpin serta para ahli yang
diperhitungkan?
Bukankah SDM Tou Tumompaso
saat ini melimpah?
Semuanya itu cuma menjadi
kebanggaan semu. Kita terkadang jadi penonton bahkan penggembira dari setiap
moment persaingan para elit birokrat. Kaderisasi kepemimpinan kita bahkan
terbelakang dan masih dipandang sebelah mata serta menjadi olok-olokan tetangga
kita.
Tumompaso sendiri memiliki
posisi yang unik dengan rekan serta sesama daerah yang lain. Kalau
daerah-daerah lain di Minahasa setara dan dipandang serta diperhitungkan
sebagai bagian dari kancah kepemimpinan Sulut. Tumompaso tidak demikian.
Cap hitam kelam masa lalu perpolitikan Tumompaso masih menjadi mimpi jahat serta senjata ampuh para pesaing kita.
Cap murah dan bisa dibeli adalah bagian meruntuhkan mental dan martabat kita masih menjadi kampanye hitam mematikan calon regenerasi kepemimpinan Tou Tumompaso.
Cap bodoh dan tidak cerdas melumpuhkan kebanggaan kita untuk masuk dalam kancah persaingan.
Cap palontaan hanya menjadikan kita idiot dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Cap hitam kelam masa lalu perpolitikan Tumompaso masih menjadi mimpi jahat serta senjata ampuh para pesaing kita.
Cap murah dan bisa dibeli adalah bagian meruntuhkan mental dan martabat kita masih menjadi kampanye hitam mematikan calon regenerasi kepemimpinan Tou Tumompaso.
Cap bodoh dan tidak cerdas melumpuhkan kebanggaan kita untuk masuk dalam kancah persaingan.
Cap palontaan hanya menjadikan kita idiot dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Posisi unik lainnya bagi Tumompaso
jika ditinjau secara antropologi, etnologi, ilmu budaya memang Minahasa lahir
dari sini. Sebagai bagian sub etnis Tontemboan, masih dibedakan lagi 2 kelompok
yaitu Ma'tanai dan Ma'kele'i. Nah.. setelah lepasnya kota langowan praktis kita
menjadi bagian terkecil dari keMinahasaan, sebagai kelompok Ma'kele'i. Ini
pertanda bahwa kita cuma pelengkap bukan subjek.
Lalu apa yang harus kita
perbuat?
Jadi dalam menghadapi
PILGUB kali ini, khusus untuk memilih calon wakil rakyat kita di provinsi, ada
baiknya kita rakyat Tumompaso bersikap pragmatis saja. Pilihlah CAGUB yang siap
berempati ke Tumompaso serta berkontribusi nyata untuk kesejahteraan Tumompaso,
siapapun itu orangnya. Bukan CAGUB yang hanya DATANG ke Tumompaso mencari
suara. Dari sekian calon gubernur kini kita tidak bisa menafikan sudah ada dari
mereka atau belum yang sudah menunjukan sikap ini.
Memang kalau kita mengambil
sikap seperti ini, pasti akan muncul suara sumbang dari compatriot yang lain sesama
calon maupun barisan tim sukses dan pendukungnya. Tapi tak usahlah pedulikan
suara sumbang semacam itu. Sebab itu hanyalah suara dari sekelompok kaum yang
mengidap penyakit rabun dekat, yang bisa melihat kuman jauh di seberang lautan
tapi tak bisa melihat Gajah di pelupuk mata mereka sendiri.
Ingat,,, bahkan TUHAN pun
tidak akan mengubah nasib Tumompaso kalau kita orang Tumompaso tidak berusaha
mengubah nasib kita sendiri.
Tou
Sumesegha voor Tumompaso*







