Yaku ca u si tou sapa-sapa. Sapake si tou
niatean, masale touen se kayobaan Tumompaso ni myatem. Sapakem ase patik o se
nuwu anio kumesot ase ate wo nontak. Makakeli mey wo mongken wo moray kasadaran
nei. Muntungke Awean Kinatoroan.
PT.
PGE Area Lahendong Tunduk Pada “Perusahaan Abal-Abal”?
Aneh bin ajaib kok ada ya orang yang bicara enak dan santai
padahal sarat dengan kemunafikan dan kebohongan. Pembohongan yang terskenario
tanpa ditutupi dengan kamuflase apapun, makin terlihat begitu rusaknya tatanan
kehidupan Tou Tumompaso itu, bahkan otoritas pemerintahan acap kali bermain
pada zona kepentingan sesat dan pragmatis. Kita semua juga tahu sikap ini menimbulkan perlawanan baik
pribadi, kelompok maupun organisasi. Kitapun terkadang tahu apa yang kita
hadapi gampang-gampang susah dan melawan tembok besar bernama sistem. Orang
sudah mafhum, bahwa pengusahaan Panas Bumi di daerah kita dikomandoi dan di
owneri PT. PGE Area Lahendong.
Tercatat ada empat perusahaan kelas nasional yang sedang
menjadi sorotan dan terkesan melakukan pembiaran hak-hak normatif pekerja yaitu
PT Asia Petrocom Service, PT Difco Energi, PT Mudking dan CV Cahaya Timur. PT PGE area Lahendong yang nota bene adalah tuan rumah resmi
yang ditunjuk oleh Pemerintah yang sah dengan cara yang sah tentu memiliki
kewenangan dalam hal pengawasan internal perusahaan dibawah lingkupnya untuk
memberi perlindungan hukum dan keamanan yang memadai, bahkan bisa menjadi
puncak garansi penegakan regulasi ketenagakerjaan untuk menghindari dampak
sosial dan stigma buruk bagi pengusahaan panas bumi. Anehnya hal itu tidak
memberi efek apapun kepada PT PGE Area Lahendong, malah terlihat ekspresi
keingin tidak tahuan pada pelanggaran-pelanggaran hingga memunculkan hilangnya
kredibilitas maupun eksistensinya dimata masyarakat.
Sungguh permainan tolol yang ditampilkan, mencoreng diri
sendiri dan wajahnya terlihat makin bloon, mungkin saja maksudnya konsisten
karena ketakutan yang tidak diketahui sebabnya untuk berpihak kepada tujuan
program apapun hasil akhir program itu walau meninggalkan luka dilain pihak,
atau memang menjadi bahagian dari pejuang pejuang kuli PT PGE dari upaya
pembodohan dan penghisapan tenaga kerja kita. Namun apapun latar belakangnya, apa yang mereka tampilkan
baik posisi dan pendiriannya jelas menggambarkan kekerdilan jiwa dan kecilnya
mental dan jiwa. Sungguh mengejutkan bagi kebanyakan masyarakat atas pembiaran
ini.
Mantan tenaga kerja PT APS Lody Momongan mengaku tetap
berjuang menuntut hak-hak pekerja. Termasuk, bila akhirnya PT PGE hingga Dewan
Kab Minahasa mencabut dukungan serta ketidakberpihakan pada pekerja. “Kalau
memang mereka mau mencabut (dukungan) ya kami bisa menempuh upaya hukum sampai
tingkat apapun,” ujar Lody. Hanya saja, pria asal Kamanga Satu juga dikenal sebagai pala
ini menyatakan bahwa, PT PGE Area Lahendong sebagai otoritas tertinggi dalam
hal pengawasan harus lebih bijak melihat masalah yang ada secara objektif.
Pasalnya, lanjut Lody, pihak PT PGE datang di saat kondisi sosialisasinya untuk
meningkatkan taraf hidup rakyat Tumompaso. “Jadi, seharusnya masalah perjuangan hak normatif ini tidak
dihambat. Tapi, marilah melihat subtansi dari apa yang sedang kami perbuat
untuk menegakan regulasi, supaya dikemudian hari tidak terjadi hal demikian”
keluhnya.
Lody berujar bahwa PT PGE harusnya berusaha membangun image
yang bagus dimata masyarakat dan pekerja disaat hal ini sedang berada di titik
nadir. Semangat inilah seharunya ditunjukan, bukan malah membiarkan ketimpangan
ini terjadi,” timpalnya. Darimana logika itu diperoleh, jelas tidak masuk diakal
orang awam, Perusahaan sebesar PGE Area Lahendong begitu sangat takut dan mampu
menampilkan wajah dirinya seperti itu, seolah-olah begitu menakutkan sedemikian
sehingga membiarkan hak-hak normatif pekerja.
Sementara gagalnya perjuaganan pekerja, merupakan taruhan
besar dihadapan pekerja dan seluruh masyarakat Tumompaso, rakyat kini melihat
dan tak pedulikan hubungan apapun yang terljalin diantara PT PGE dan para
konsorsium perusahaan dibawahnya, namun pemulihan hak-hak normatif pekerja
adalah mutlak tak bisa ditawar lagi. Sungguh PT PGE sedang memainkan bola api yang membahayakan
nya sendiri, menaruhkan kredibilitas terhadap komitmennya ikut mensejahterakan
pekerja dan masyarakat lokal sebagai bahagian perombakan total image negatif
termasuk menggusur ketimpangan regulasi yang dimainkan selama ini, tidak ada
arti lain selain komitmen dukungan itu dihadapan pekerja dan masyarakat lokal.
Indikasi PT PGE menghindarkan diri dari tanggungjawab
terhadap komitmennya, paling sedikit menunjukkan perilaku Opportunisme dari PT
PGE terhadap komitmennya kepada pekerja dan masyarakat Tumompaso.
Pengusahaan Panas Bumi di Tumompaso adalah perhelatan
Pemerintah cq PT PGE Area Lahendong, yang harus dilaksanakan sesuai dengan
komitmen awal sosialisasi yang sudah disepakati secara umum dengan masyarakat.
Oleh karena itu tidak ada satu alasan apapun dari PT PGE
membiarikan masalah ini, apalagi dengan alasan tidak adanya kantor resmi mereka
di SULUT.
Tabea..
Sumesegha, 20 Oktober 2015







0 komentar:
Posting Komentar