Nuwu E Matua

Kamis, 29 Oktober 2015

Siapakah Pilihan Tumompaso Untuk Gubernur Sulut


OLLY, MAYA, BENNY:
Pertaruhan martabat kita. Jangan Salah Pilih Cagub

Hajatan besar PILGUB sudah di depan mata. Fenomena umum setiap menjelang PILGUB, ketika politisi tiba-tiba menjadi begitu manis sikap dan perbuatannya, menyanjung dan memuja rakyat si pemberi suara, sekarang sudah menjadi pemandangan sehari-hari.
Bagaimana kita, rakyat pemilik suara dalam menyikapi fenomena ini?. Dulu di awal berdirinya negara ini, ketika segenap lapisan masyarakat di negara ini masih larut dalam euforia kemerdekaan, ketika kita baru mendapat kesempatan untuk menentukan nasib sendiri, jawabannya Iya. Bahkan dalam dunia politik yang penuh tipu muslihat sekalipun. Dalam beberapa kasus malah kebablasan. Contohnya seperti terjadi di Tumompaso. Euforia kemerdekaan, semangat mendahulukan kepentingan bangsa dan negara sampai menciptakan gerakan meninggalkan adat dan kesukuan (karena adat dan kesukuan ini dianggap sebagai taktik Belanda untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa ini). Gerakan ini ditandai perusakan tatanan budaya minahasa yang berakar dari Tumompaso.
Itu cerita awal disaman penjajahan dan kemerdekaan. Tapi ketika kemerdekaan bukan lagi cerita manis dalam mimpi, menentukan nasib dan mengurus diri sendiri sudah dalam tataran aksi bukan lagi perjuangan. Ketika kekuasaan berarti uang. Para politisi yang ketika masih larut dalam suasana euforia kemerdekaan tampak seperti sekumpulan manusia ideal perlahan tapi pasti kembali ke jati dirinya sebagai manusia normal.
Ketika generasi berganti, politisi yang merupakan manusia ideal makin sulit ditemui. Politisi Indonesia dalam hakikat, tak lagi beda dengan politisi manapun di muka bumi. Yang ketika berkampanye mengatakan berjuang demi kepentingan rakyat dengan mulut berbusa-busa sampai ada yang mengatakan ‘Menggadaikan diri’. Tapi kenyataannya yang mereka perjuangkan di atas segalanya adalah kepentingan pribadi dan kelompoknya sendiri.
Untuk itu sebagai pemilih, agaknya ucapan Jendral Charles de Gaulle, presiden Perancis pertama perlu kita renungkan “Para politisi itu tidak percaya pada omongan mereka sendiri, karena itulah mereka begitu takjub ketika rakyat mempercayai apa yang mereka katakan”.
Jadi dalam menentukan pilihan, berpijaklah pada realita, bukan pada utopia indahnya semangat kebangsaan yang diajarkan di sekolah. Apalagi janji manis para politisi.
Lalu kalau kita berbicara Tumompaso, bagaimanakah realitanya?
Untuk konteks Tumompaso, fenomena Pemilu ini memiliki keunikannya sendiri. Tumompaso meskipun merupakan bagian dari Tanah Minahasa, tapi Tumompaso sebagai sebuah identitas Kepemimpinan tidak memiliki akses langsung ke level lebih tinggi.
Buktinya.....?
Bukankah seharusnya kita berbangga bahwa Tanah Minahasa adalah sintesis dari Tompaso. Dimana Minahasa lahir dari rahim Roong Kinatowan'ta Tumompaso?
Bukankah sejarah panjang kepemimpinan ribuan tahun bangsa Minahasa adalah putra-putri Tumompaso?
Bukankah secara nasional disaman Soekarno Tumompaso banyak melahirkan pemimpin serta para ahli yang diperhitungkan?
Bukankah SDM Tou Tumompaso saat ini melimpah?
Semuanya itu cuma menjadi kebanggaan semu. Kita terkadang jadi penonton bahkan penggembira dari setiap moment persaingan para elit birokrat. Kaderisasi kepemimpinan kita bahkan terbelakang dan masih dipandang sebelah mata serta menjadi olok-olokan tetangga kita.
Tumompaso sendiri memiliki posisi yang unik dengan rekan serta sesama daerah yang lain. Kalau daerah-daerah lain di Minahasa setara dan dipandang serta diperhitungkan sebagai bagian dari kancah kepemimpinan Sulut. Tumompaso tidak demikian. 
Cap hitam kelam masa lalu perpolitikan Tumompaso masih menjadi mimpi jahat serta senjata ampuh para pesaing kita.
Cap murah dan bisa dibeli adalah bagian meruntuhkan mental dan martabat kita masih menjadi kampanye hitam mematikan calon regenerasi kepemimpinan Tou Tumompaso. 
Cap bodoh dan tidak cerdas melumpuhkan kebanggaan kita untuk masuk dalam kancah persaingan. 
Cap palontaan hanya menjadikan kita idiot dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Posisi unik lainnya bagi Tumompaso jika ditinjau secara antropologi, etnologi, ilmu budaya memang Minahasa lahir dari sini. Sebagai bagian sub etnis Tontemboan, masih dibedakan lagi 2 kelompok yaitu Ma'tanai dan Ma'kele'i. Nah.. setelah lepasnya kota langowan praktis kita menjadi bagian terkecil dari keMinahasaan, sebagai kelompok Ma'kele'i. Ini pertanda bahwa kita cuma pelengkap bukan subjek.
Lalu apa yang harus kita perbuat?
Jadi dalam menghadapi PILGUB kali ini, khusus untuk memilih calon wakil rakyat kita di provinsi, ada baiknya kita rakyat Tumompaso bersikap pragmatis saja. Pilihlah CAGUB yang siap berempati ke Tumompaso serta berkontribusi nyata untuk kesejahteraan Tumompaso, siapapun itu orangnya. Bukan CAGUB yang hanya DATANG ke Tumompaso mencari suara. Dari sekian calon gubernur kini kita tidak bisa menafikan sudah ada dari mereka atau belum yang sudah menunjukan sikap ini.
Memang kalau kita mengambil sikap seperti ini, pasti akan muncul suara sumbang dari compatriot yang lain sesama calon maupun barisan tim sukses dan pendukungnya. Tapi tak usahlah pedulikan suara sumbang semacam itu. Sebab itu hanyalah suara dari sekelompok kaum yang mengidap penyakit rabun dekat, yang bisa melihat kuman jauh di seberang lautan tapi tak bisa melihat Gajah di pelupuk mata mereka sendiri.
Ingat,,, bahkan TUHAN pun tidak akan mengubah nasib Tumompaso kalau kita orang Tumompaso tidak berusaha mengubah nasib kita sendiri.
Tou Sumesegha voor Tumompaso*

0 komentar: