Wajah Demokrasi Di Tumompaso
Ada
fenomena cukup kontras tentang sikap berdemokrasi di Kecamatan Tompaso dan
pemekaran baru Kecamatan Tompaso Barat di wilayah Minahasa ini. Sikap
berdemokrasi yang kontras itu terjadi secara vis a vis antara masyarakat dan kaum
elit. Masyarakat nampaknya tak memiliki keinginan kuat untuk berkontribusi
nyata dalam proses memilih yang benar calon pemimpin daerah sebagai tonggak penentuan
kemajuan wilayah ini, sehingga pada akhirnya elit penguasa merasa bebas untuk
menancapkan taring kekuasaaanya. Bukti nyatanya tingkat partisipatif memilih
hanya ditentukan dengan berapa banyaknya uang yang bisa didapat tanpa harus
tahu seberapa berpihaknya partai dan calon yang diusung untuk memajukan daerah
kita. Dengan bahasa keren politik kini “Segala Urusan Lewat Uang Tunai =
SULUT”.
Setting kisah di atas, bukan terjadi pada masa
kekuasaan otoriter, semisal zaman orde baru. Namun sepertinya suasana demikian tumbuh
dimasa reformasi, bahkan kini makin menggila. Ada indikasi kuat bahwa hal itu
terjadi karena ketidakmatangan mental untuk berpartisipasi dalam kemajuan Kecamatan
Tompaso dan Tompaso Barat ini. Sebagaimana yang dimanafestasikan dalam retorika
warga Tumompaso, pemilu menjadi ajang elit penguasa untuk kembali “berbudi”
dengan berbagi kepada sesama (money
politics) Alangkahnya mulianya jikalau tanpa disertai dengan hasrat
untuk terpilih menjadi kaum elit dan penguasa.
Sungguh
tidak benar pandangan yang menyatakan bahwa kesadaran berdemokrasi di Tumompaso
ini masih seumur jagung, jika diukur dari sudut waktu. Bukankan Tumompaso sudah
mengenal demokrasi sejak tahun 757M bahkan menjadi dapur dan guru demokrasi
serta politik di jazirah Minahasa, saat jazirah Minahasa dibagi pada empat
sub-etnis awal. Namun jika pandangan yang berbeda itu muncul yang dimulai
asumsinya melalui pertanyaan : sampai kapan situasi tersebut bertahan dan
dipertahankan? Pandangan ini selain mengajak masyarakat Tompaso Raya untuk
berpartisipasi dalam proses demokrtisasi sejati, juga menghimbau kepada
masyarakat Tompaso Raya agar belajar dari pengalaman yang pahit di masa lalu
secara cepat.
Jelasnya,
agar masyarakat Tompaso Raya untuk benar-benar dalam memilih pemimpin dan
wakilnya berdasarkan kemampuan yang mapan dan selalu berpihak pada rakyat.
Bukan karena adanya pengaruh si SULUT yang menggiurkan. Bermuara juga dari
istilah lain “ ADUL” ada duit urusan lancar, maka apa saja yang menjadi bualan
hasrat akan terpuaskan.
Cukup
sudah waktu si SULUT dan ADUL berkeliaran di Kecamatan Tompaso Raya ini, kapan
saja, lebih-lebih menjelang pemilu tiba. Jangan sampai guru demokrasi dan
politik di Tumompaso terjamah dengan kebejatan si SULUT dan ADUL yang tak
bertanggung jawab.
Kultur
ala SULUT dan ADUL semakin mencoreng wajah demokrasi di Tompaso Raya, yang pada
gilirannya akan membelenggu ruang gerak kemajuan Tompaso Raya itu sendiri.
Memang benar, kemajuan bukan saja atas berkah adanya demokrasi, tetapi perlu
diingat demokrasi bagian dari proses kemajuan itu. Bermula dari niat yang tak
baik, tentu saja akan berimplikasi pada perbuatan yang tak baik pula.
Sehingga halal-haram bukan menjadi aturan, boleh atau tidak bukan menjadi
pegangan. Yang ada hanyalah kata jadi atau tidak. Kalau sudah demikian,
demokrasi menjadi taruhan.
Tompaso
Raya, jalannya masih panjang dan tak berhenti setelah tanggal 9 Desember 2015.
Jangan sampai ia dikendalikan oleh orang-orang yang tak punya tanggung jawab
sehingga masa depannya menjadi suram dan tak terarah. Semuanya tergantung
masyarakat Tompaso Raya itu sendiri, khsusunya ketika memilih calon pemimpin
dan wakilnya, karena itu sangat menentukan haluan Tompaso Raya ke depan. Mau di
bawa kemana Tompaso Raya…..????







0 komentar:
Posting Komentar